Penduduk
asli Jakarta adalah orang Betawi, yaitu masyarakat keturunan campuran
dari ras dan suku yang berbeda-beda, yang menjadikan Jakarta menjadi
rumahnya. Termasuk masyarakat yang terbiasa bicara terang-terangan dan
demokratis, masyarakat Betawi menerima dan memahami baik budaya yang
berbeda-beda dalam kesehariannya, sampai seni, musik dan tradisi. Bahasa
Betawi tampak seperti campuran dari bahasa Malay asli dengan pemakaian
beberapa kata-kata dari bahasa Sunda, bercampur lagi dengan kata-kata
dari bahasa Jawa, Cina, India, Arab bahkan juga dari bahasa Belanda.
Dengan
semakin besarnya jumlah orang yang masuk Indonesia sejak kemerdekaan,
masyarakat asli Betawipun terdorong ke area terpencil, kebanyakan ke
Jakarta Barat dan Selatan.
Di atas lahan seluas 289 hektar di Setu Babakan dibangun perkampungan Budaya Betawi, dimana masyarakat dapat berkunjung dan berjalan-jalan di tempat yang mempertahankan gaya Betawi, baik dari arsitekturnya maupun tata letaknya.
Setiap bulan Juli, Festival Budaya Betawi berlangsung di tempat ini, yaitu seperti upacara perkawinan, pesta sunatan, ritual nujuh bulanan kehamilan dan lainnya.
Para pengunjung juga dapat memancing ikan dan menikmati berbagai makanan khas setempat di pondok-pondok yang menjual makanan maupun restoran.
Di atas lahan seluas 289 hektar di Setu Babakan dibangun perkampungan Budaya Betawi, dimana masyarakat dapat berkunjung dan berjalan-jalan di tempat yang mempertahankan gaya Betawi, baik dari arsitekturnya maupun tata letaknya.
Setiap bulan Juli, Festival Budaya Betawi berlangsung di tempat ini, yaitu seperti upacara perkawinan, pesta sunatan, ritual nujuh bulanan kehamilan dan lainnya.
Para pengunjung juga dapat memancing ikan dan menikmati berbagai makanan khas setempat di pondok-pondok yang menjual makanan maupun restoran.
Ondel-ondel
merupakan boneka raksasa yang tak terpisahkan dari budaya betawi dan
telah menjadi ikon kota Jakarta. Boneka ini dibuat dari rangka bambu
sehingga memudahkan orang untuk membawanya kemana-mana. Ondel-ondel
biasanya terdiri dari 2 boneka, yang pria memakai topeng merah dan
berkumis dilengkapi dengan kostum berwarna gelap. Sedangkan perempuannya
bertopeng putih dengan bibir bersaput lipstik merah. Sang perempuan
mengenakan kostum berwarna cerah. Keduanya mengenakan hiasan kepala
bergaya Malay, kembang kelapa.
Ondel-ondel biasa tampil ’memimpin’ barisan dalam acara perkawinan ataupun sunatan, diikuti oleh pasangan pengantin atau anak yang disunat diikuti oleh keluarga masing-masing, berjalan berarak-arakan keliling kampung dimeriahkan oleh Tanjidor atau music Gambang kromong.
Ondel-ondel biasa tampil ’memimpin’ barisan dalam acara perkawinan ataupun sunatan, diikuti oleh pasangan pengantin atau anak yang disunat diikuti oleh keluarga masing-masing, berjalan berarak-arakan keliling kampung dimeriahkan oleh Tanjidor atau music Gambang kromong.
Musik
Betawi yang dikenal dengan nama Tanjidor konon berasal dari perkebunan
Belanda yang terletak di luar kota sekitar Batavia, seperti Depok,
Cibinong, Bogor, Bekasi dan Tangerang, tempat dimana para budak setempat
kerap memainkan untuk majikan Belandanya. Ketika perbudakan dihapuskan
pada abad 19, kelompok pemusik meneruskannya dengan ngamen sebagai mata
pencaharian mereka. Tradisi ngamen ini terus berlanjut sampai sekarang.
Pengaruh Eropa terlihat jelas dari pemakaian alat musiknya seperti
trompet, bas, klarinet, simbal dan lainnya. Saat ini Tanjidor telah
melebur dengan musik asal Malay Gambang kromong, menggunakan alat music
tamborin, beduk, gendang, kempul dan lainnya.
Selengkapnya dapat di cek di youtube...
https://www.youtube.com/watch?v=1-n5c8F9aTc&feature=youtu.be
Selengkapnya dapat di cek di youtube...
https://www.youtube.com/watch?v=1-n5c8F9aTc&feature=youtu.be